Sabtu, 13 Juni 2026

Apa Kabar Pak Azir?



Beberapa bulan lalu KNPI Sulawesi Selatan kembali menjadi perbincangan. Organisasi yang sejak lama menjadi rumah berhimpun berbagai elemen pemuda itu kembali berada dalam situasi yang tidak sederhana. Dua kubu, dua ketua, dan dua klaim kepemimpinan kembali hadir dalam ruang yang sama. Perdebatan tentang legitimasi kembali mengemuka, sebagaimana yang sudah berulang kali terjadi dalam perjalanan panjang organisasi kepemudaan ini.


Di tengah hiruk-pikuk itu, entah mengapa ada satu pertanyaan sederhana yang terlintas dalam pikiran saya sebagai manatan pengurus yang selalu menikmati sajian kopi buatan tangan beliau: apa kabar Pak Azir?


Pertanyaan itu mungkin terdengar sepele. Namun bagi mereka yang cukup lama mengenal kehidupan KNPI Sulawesi Selatan, pertanyaan tersebut justru menyentuh bagian yang paling mendasar dari keberlangsungan organisasi ini. Sebab ketika banyak orang sibuk membicarakan siapa yang paling sah memimpin KNPI, ada sosok yang selama puluhan tahun justru sibuk memastikan organisasi ini tetap bisa berjalan dari meja sekretariat.


Namanya Azir Maula. Tahun demi tahun berlalu, generasi pengurus datang dan pergi, ketua berganti, dinamika organisasi berubah, tetapi Pak Azir tetap berada di tempat yang sama. Menjaga administrasi, merawat arsip, mengurus surat-menyurat, melayani kebutuhan organisasi, dan memastikan roda kesekretariatan tetap bergerak meskipun sering kali berjalan dalam situasi yang tidak mudah.


Kini usia dan kondisi kesehatan tentu tidak lagi sama seperti dua puluh atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Tubuh manusia memiliki batasnya sendiri. Energi yang dahulu melimpah perlahan berkurang. Kesehatan yang dulu kuat menghadapi berbagai aktivitas kini tentu membutuhkan perhatian yang lebih besar. Namun di tengah segala keterbatasan itu, Pak Azir masih terlihat berusaha hadir. Masih berupaya mengurus hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin dianggap pekerjaan kecil, padahal justru menjadi fondasi bagi keberlangsungan organisasi.


Pasca berpulangnya almarhum Abdul Wahap, sosok yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari kehidupan KNPI Sulawesi Selatan, beban yang dipikul Pak Azir terasa semakin berat. Banyak pekerjaan yang sebelumnya terbagi kini harus ditanggung sendiri. Banyak hal yang dahulu bisa didiskusikan kini harus diselesaikan dengan kemampuan dan tenaga yang tersisa.


Namun seperti biasanya, Pak Azir tidak banyak mengeluh. Ia memilih tetap bekerja. Tetap membuka pintu sekretariat. Tetap membantu siapa saja yang membutuhkan informasi administrasi organisasi. Tetap menjaga dokumen-dokumen yang menjadi jejak perjalanan panjang KNPI Sulawesi Selatan.


Kadang saya berpikir, di tengah berbagai perdebatan mengenai kepemimpinan dan legitimasi, apakah kita cukup sering bertanya tentang orang-orang yang selama ini menjaga rumah besar itu dari dalam?


Sebab organisasi tidak hanya hidup karena ketua dan pengurusnya. Organisasi juga bertahan karena ada orang-orang yang menjaga ingatannya, merawat administrasinya, menyimpan sejarahnya, dan memastikan semua tetap berjalan ketika perhatian publik sedang tertuju ke tempat lain.


Pak Azir adalah salah satu representasi dari kerja-kerja sunyi tersebut. Ia tidak tampil di podium. Tidak memimpin sidang pleno. Tidak berdebat soal legitimasi. Tetapi justru karena orang-orang seperti beliau, banyak urusan organisasi tetap bisa diselesaikan ketika situasi sedang tidak menentu.


Mungkin karena itu, ketika KNPI Sulawesi Selatan kembali terbagi ke dalam berbagai kubu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang memimpin. Pertanyaan yang juga layak diajukan adalah siapa yang tetap menjaga organisasi ini agar tidak kehilangan denyut kehidupannya.


Dan setiap kali pertanyaan kecil ini muncul, nama Pak Azir selalu hadir dalam ingatan kita selaku mantan pengurus KNPI Sulsel.


Karena itu, di tengah dinamika yang kembali terjadi hari ini, izinkan saya kembali bertanya: apa kabar Pak Azir?


Semoga beliau selalu diberikan kesehatan yang baik. Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan lahir dan batinnya. Semoga tenaga, kesabaran, dan ketulusannya dalam mengabdi kepada dunia kepemudaan Sulawesi Selatan terus menjadi amal kebaikan yang tidak pernah terputus.


Sebab pada akhirnya, organisasi boleh berganti pemimpin, boleh mengalami perpecahan, bahkan boleh mengalami berbagai fase naik dan turun. Namun pengabdian yang tulus seperti yang ditunjukkan Pak Azir adalah sesuatu yang jauh lebih sulit ditemukan dan jauh lebih layak untuk dikenang.


Terima kasih, Pak Azir. Tetap sehat, tetap kuat, dan tetap menjadi bagian dari cerita panjang pengabdian bagi pemuda Sulawesi Selatan.



Catatan Kecil dari Salah satu Penikmat Kopi Buatan Pak Azir dan Pak Wahab di Sekretariat KNPI

Tidak ada komentar: